Judul : Surat Untuk Sahabat setiaku ( Kematian )
Assalamu’alaikum teman setia sedari dulu. Bagaimana kabar mu ?
masihkah Allah menggariskan engkau sebagai teman setiaku ?? “pertanyaan bodoh”,
mungkin itu sanggahan darimu untuk ku.
Teman, sejujurnya aku takut denganmu, aku takut bertemu denganmu,
tapi kehadiranmu selalu ku rasakan, kesetiaanmu dalam mengintai jiwaku selalu
hatiku yang merasakan, aku tak tahu kapan kau akan menemui ku, bisa jadi satu
detik yang akan datang, satu menit, sejam, seminggu, sebulan, setahun atau
bertahun-tahun yang akan datang.
Kau penuh dengan kejutan kawan, datang tak pernah memberi kabar,
datang semaumu, tak perduli aku lagi makan, aku lagi jalan, aku lagi belajar,
aku lagi berbakti pada ayah ibuku misalnya, atau aku lagi berbuat yang buruk,
tak peduli aku merengek meminta engkau pergi, tapi kau tak kunjung
menghiraukanku.
Ku akui kesetiaanmu padaku tak sebanding kesetiaanmu pada Tuanmu,
kau jalankan yang diperintahkan-Nya, kau patuhi perkataan-Nya untuk bersedia menjadi
kawanku. Teman, bolehkah aku buat perjanjian mengenai kapan kau menemuiku ?!
bisakah kau meminta Tuanmu untuk lebih lama lagi membiarkan engkau terus
bersamaku dan mengawasiku, tapi jangan dulu menemuiku, karena sudah ku katakan
“Aku masih belum siap teman, aku pun ingin memberikan kejutan untukmu dan
Tuanmu sebagai rasa terimakasihku ?!”
Kau boleh mendatangiku dari arah mana yang kamu suka, depan atau
belakang, kiri maupun kanan, dari ubun-ubun atau ujung kaki, datangi dari
tempat yang kau suka yang mana Tuanmu juga memerintahkannya, tapi .....
Aku ingin ditemui dalam keadaan yang dimana Tuanmu akan
menyayangiku dan mencintaiku, aku ingin kau menemuiku dalam keadaan yang dimana
Tuanmu ridho terhadap yang ku lakukan dibumi-Nya dan selama kau menjadi teman
setiaku, aku ingin kau menemuiku dalam keadaan yang dimana Tuanmu menginginkan
aku untuk menjadi pelengkap di jannah-Nya, bukan menjadi pelengkap di naar-Nya,
dan aku ingin kau menemuiku dalam keadaan yang dimana lisan ku melafalkan
kembali kalimah persaksian ( syahadat ) seperti yang dulu ku lakukan, dan
cukuplah itu menjadi kalimat perpisahanku denganmu.
Sebaliknya, Aku takut bila kau menemuiku dengan diselingi rasa
benci, diselingi rasa marah. Aku takut jika bertemu denganmu, kau akan mengembalikan
aku kepada Tuanmu dengan sangat kasar, tak peduli lagi aku kawan baikmu, tak
peduli lagi aku menangis dan merengek meminta untuk dihentikkan rasa sakit itu,
Aku takut kau memperlakukanku dengan kasar, aku akan sedih karena hal itu. Aku
takut kawan, aku takut L
Sahabat yang sekarang ini sedang duduk, berdiri, berjalan bersamaku,
yang sama sekali tak pernah bosan mengintaiku, yang sama sekali tak pernah
bosan mengikutiku kemanapun aku pergi .. aku menyadari, bukan kuasamu untuk
menunda atau mempercepat pertemuan kita, tapi itulah yang menjadi permintaan
hatiku, aku ingin menemuimu dengan perasaan gembira, perasaan rindu, hingga
puncak rindu itu mencair kala aku bisa bertemu dengan Tuanmu. Bukan dalam rasa
benci serta marah yang menguasai hati.
Sahabat, terimakasih telah menjadi pelajaran terindah untuk hidupku,
sampaikan salam dan permintaanku pada Tuanmu. Semoga Tuanmu mengirimkanmu untuk
mengambilku dengan Khusnul Khotimah ^^
Komentar
Posting Komentar