Untuk yang Bersedia Menggenggam Lalu Akhirnya Melepaskan
Tulisan ini hadir,
ketika para da’i dan da’iah, penegak panji-panji Islam dan kita semua mulai
terbesit dalam hati untuk mundur hingga ingin berhenti dari jalan yang Allah
tetapkan.
***
Benarlah, bahwa
iman manusia mengalami kenaikan dan penurunan. Dinamikanya pun bahkan tidak ada
yang tahu kecuali dia yang merasakan. Maka tatkala tak lagi indah suatu ibadah
yang kita lakukan, tak lagi syahdu khalwat bersama sang Maha Cinta, tak lagi keluar
air dari pelupuk mata menyesali khilaf tak berkesudahan, tak lagi ada cinta
antara saudara seiman, tak lagi searah kita dengannya, maka mari percepat
periksa diri, periksa hati. Tanyakan, apa yang salah?
Imam Ibnu
Al-Qayyim Al-Jauziyah berkata “Carilah hatimu di tiga tempat ini ;
disaat engkau mendengarkan Al-Qur’an, disaat engkau berada di majelis dzikir
(majelis ilmu) dan disaat engkau menyendiri bermunajat kepada Allah. Jika
engkau tak temukan hatimu disana, maka mintalah kepada Allah agar memberimu
hati baru, karena sesungguhnya engkau sudah tak punya hati lagi”
Nasihat keras dari
Imam Ibnu Al-Qayyim Al- Jauziyah kiranya bisa menggetarkan hati kita. Cari hati
kita, dimana dia berada? Dimana jaraknya? Masihkah berada dalam jangkauan-Nya? Mendekat atau
malah berlari menjauh.
Dan jika hal itu
terjadi adanya, patut tidak menjadikan kita tertunduk diam tak bergerak.
Ayunkan kaki, langkahkan kaki, tengadahkan tangan, bermunajat padaNya. “Allah,
karuniai kami hati yang baru. Hati yang semakin mencintai Engkau dan Rasul-Mu. Hati yang
semakin kuat, tabah serta sabar berjalan bersama dakwah ini hingga nafas
berujung di sisa waktu kami.” Tidak ambil jalan pintas untuk berhenti, melepas
amanah lalu berlalu pergi meninggalkan barisan ini.
Masih ingatkah
bagaimana amanah itu sampai di pikul oleh kita para manusia? Ketika Allah
meminta langit, bumi dan gunung-gunung untuk memikul amanah tersebut lalu
enggan memikulnya hanya karena khawatir akan mengkhianatinya dan ketika diminta
untuk dipikul manusia maka manusia menerimanya. Dan sungguh pada diri manusia
terdapat kezaliman dan kebodohan. (Lihat. QS. Al-Ahzab ayat 72)
Melalui firman-Nya tersebut,
Allah seakan-akan memberi peringatan kepada kita “bahwa janganlah berbangga
diri wahai manusia, ketika amanah Ku titipkan kepadamu, ketika amanah
engkau pikul. Tapi kenalilah dirimu terlebih dahulu saat ingin melaksanakannya”
Dulu, di zaman
Rasulullah saw. Ketika para sahabat dibebankan sebuah amanah, dititipkan tugas
kepadanya, maka menjadi sedihlah hati mereka, menjadi beratlah langkah kakinya,
menangislah mereka hingga berkata “Innalillahi wa Inna ilaihi
rooji’uun”. Bukan karena banyak serta berat jenis amanahnya, tapi
kekhawatirannya yang begitu dirasakan ketika tak bisa menunaikannya dengan
baik.
Namun, pada fenomena
sekarang ini, nyatanya “amanah” menjadi sesuatu yang gencar dikejar, gencar
diminati tanpa mengenal bagaimana kondisi diri. Mampu atau tidak kita memenuhi
dan melaksanakannya. Ada komitmen atau tidak kita melakukannya sampai akhir.
Bukankah malu itu seharusnya melekat kuat dalam diri kita ketika mampu
mengemban tapi mudah jua melepaskan?
Untuk yang
sebelumnya bersedia menerima, menggenggam namun ada keinginan untuk melepaskan,
mari kita renungkan kembali bagaimana kepercayaan itu di berikan, mari kita
renungkan kembali karena apa, untuk apa kita memilih jalan ini. relakah peranmu
engkau serahkan kepada yang lebih baik dalam memikul amanah? Bukankah sebuah
amanah juga menjadi media dalam memacu semangat kerja kita? Tak cemburukah jika
peran di ambil dan kita malah membuang percuma? Bukankah ada anjuran Fastabiqul
Khayrat dalam Alqur’an? Maka tak inginkah kita?
Jikapun pada
akhirnya rasa ingin melepaskan lebih bergemuruh berkecamuk dalam hati kita,
hingga beratkan langkah kaki untuk berjalan bersama membersamai dakwah ini,
hingga lidah kelu dalam menyuarakan kembali kalimat tauhidnya, hingga acuh
membuncah memenuhi dada karena ingin segera berlalu dan berhenti, maka pupuk
kembali hati dengan siraman cahaya cinta-Nya. Temukan hati kita pada 3 tempat pesanan
Imam Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah. Karena sebenarnya, hanya kita yang benar-benar
membutuhkan dakwah ini.
Dan Untuk yang
bersedia menggenggam dan berkomitmen dalam menjalankan hingga akhir.
Pertahankanlah, ikatlah dengan tali cinta-Nya agar tak mudah lepas, kokohkan dengan iman pada-Nya agar tak mudah
goyah. Rekatkan dengan ukhuwah karena-Nya agar tak mudah renggang. Sabar serta percayalah akan janjiNya bahwa
Jika Allah akan menolong dan meneguhkan kedudukan orang-orang beriman yang
menolong Agama-Nya, dan pun Allah
mengatakan dalam firman-Nya yang lain, bahwa Dia telah membeli jiwa mujahid dan mujahidah dengan
syurga-Nya.
Karena kita
manusia lemah, dan hanya pada-Nya tempat bergantung segala yang disemesta. Maka sebuah do’a yang patut di
patenkan dalam hati “Yaa Muqollibal Quluub, Tsabbit Qolbi ‘ala dinik,
wa ‘ala thoo’atik. Wahai Allah, sang Maha pembolak-balik hati,
tetapkan hati kami diatas agamamu dan dalam ketaatan pada-Mu. Yaa Allah,
oleh karena hati ini sepenuhnya milikMu, tunduk karena kuasa serta perintah-Mu, maka buatlah
hati ini selayaknya patuh terhadap syariatMu, tunduk terhadap ketetapan-Mu.”
“Jangan
sia-siakan kepercayaanNya, dakwah ini tak akan pernah berhenti hanya karena
aku, kamu dan kita berpaling darinya, Tasbih dan Tahmid akan tetap diucapkan,
Takbir akan tetap digemakan, Tahlil akan tetap ditegakkan, Karena Allah akan
selalu menjaga dakwah ini dengan atau tanpa kita.”
An-Nasihatu linafsih wa lighoirih. Wallahu a’laam bishhawaab ...
Komentar
Posting Komentar