Surat Untuk Sahabat Qarib.






Bismillahirrahmaanirrahiim ...

Assalamu’alaykum warohmatullah teman setia sedari dulu. Apa kabar? Masihkah Allah menggariskan engkau sebagai teman setiaku?? “pertanyaan bodoh”, mungkin itu sanggahan darimu untuk kawan merepotkan sepertiku.

Teman, sejujurnya aku takut dengan keberadaanmu, aku takut bertemu denganmu, tapi kehadiranmu selalu ku rasakan, kesetiaanmu dalam mengintai jiwaku selalu hatiku yang merasakan, aku tak tahu kapan kau akan menemui ku, bisa jadi satu detik yang akan datang, satu menit, sejam, seminggu, sebulan, setahun atau bertahun-tahun yang akan datang, atau bahkan bisa saja sekarang.

Kau penuh dengan kejutan, datang tak pernah memberi kabar, datang semaumu, tak perduli aku lagi makan, aku lagi jalan, aku lagi belajar, aku lagi berbakti pada ayah ibuku misalnya, atau aku lagi berbuat yang buruk, tak peduli aku merengek meminta engkau pergi, tapi kau tak kunjung menghiraukanku.

Ku akui kesetiaanmu padaku tak sebanding kesetiaanmu pada Allah, kau jalankan yang diperintahkan-Nya, kau patuhi perkataan-Nya termasuk untuk bersedia menjadi kawanku.

Teman, bolehkah aku buat perjanjian mengenai kapan kau menemuiku ?! bisakah kau meminta pada Allah untuk lebih lama lagi membiarkanku disini, tuk biarkan aku berjalan di shirat-Nya yang lurus, pun engkau akan membersamaiku disini dengan tetap mengawasi gerak-gerikku, walau sebenarnya ada jua temanmu di dua sisi kiri dan kananku pun setia mencatat segala perbuatanku. Bisakah untuk lebih lama lagi kau disini dan hanya mengawasiku,   tapi jangan dulu menemuiku, karena sudah ku katakan “Aku masih belum siap, masih banyak yang ingin ku perbuat yang dimana temanmu disamping kananku akan lelah mencatatnya, dan temanmu disamping kiriku tak perlu capek untuk mencatatnya. aku pun ingin memberikan kejutan untukmu dan Allah sebagai rasa terimakasihku dan syukurku. Bukankah rasa bahagia ada dihatimu manakala aku bisa melakukan hal demikian?”

Kawan, kau boleh mendatangiku dari arah mana yang kau suka, depan atau belakang, kiri maupun kanan, dari ubun-ubun atau ujung kaki, datangi dari tempat yang kau suka yang mana Allah juga memerintahkannya, tapi .....
Aku ingin ditemui dalam keadaan yang dimana Allah akan menyayangiku dan mencintaiku, aku ingin kau menemuiku dalam keadaan yang dimana Allah ridho terhadap yang ku lakukan dibumi-Nya dan selama kau menjadi teman setiaku aku ingin membuatmu mengakui aku sebagai teman yang sebenarnya, teman yang pula kau harapkan. Aku ingin kau menemuiku dalam  keadaan yang dimana Allah menginginkan aku untuk menjadi pelengkap di jannah-Nya, bukan menjadi pelengkap di naar-Nya, aku ingin kau menemuiku dimana keluarga dan sahabat-sahabatku baik-baik saja dalam penjagaan-Nya, dan aku ingin kau menemuiku dalam keadaan yang dimana lisan ku melafalkan kembali kalimah persaksian (syahadat) seperti yang dulu ku lakukan sebelum ku dilahirkan untuk menatap fananya dunia, dan cukuplah itu menjadi kalimat indah perpisahanku denganmu.

Sebaliknya, Aku takut bila kau menemuiku dengan diselingi rasa benci, diselingi rasa marah. Aku takut kau menemuiku dalam langkah kaki yang tak lurus lagi, aku takut kau menemuiku dalam keadaan hati yang sudah tak taat lagi, aku takut kau menemuiku dalam keadaan hati yang sudah mengeras layaknya batu hingga akhirnya pecah tiada berarti.
Aku takut jika bertemu denganmu, kau akan mengembalikan aku kepada Allah dengan sangat kasar, tak peduli lagi aku kawan baikmu, tak peduli lagi aku menangis dan merengek meminta untuk dihentikkan rasa sakit itu, Aku takut kau memperlakukanku dengan kasar, aku akan sangat sedih karena hal itu. Aku takut kawan, aku takut 

Sahabat yang sekarang ini sedang duduk, berdiri, berjalan bersamaku, yang sama sekali tak pernah bosan mengintaiku, yang sama sekali tak pernah bosan mengikutiku kemanapun aku pergi, dan yang sekarang telah menyiapkan atau sedang menjahitkan kain kafan untukku .. aku menyadari, bukan kuasamu untuk menunda atau mempercepat pertemuan kita, tapi itulah yang menjadi permintaan hatiku, aku ingin menemuimu dengan perasaan gembira, perasaan rindu, hingga puncak rindu itu mencair kala aku bisa bertemu dengan Allah dan Rasul-Nya. Bukan dalam rasa benci serta marah yang menguasai hati.

Sahabat, kusudahi surat ini. Terimakasih telah menjadi teman berharga serta pelajaran terindah di hidupku, sampaikan salam rindu teramat dariku dan permintaanku pada-Nya. Semoga Allah mengirimkanmu untuk mengambilku dengan Khusnul Khotimah, hingga kita bisa bercengkrama bersama dalam Syurga-Nya ^^
Salam rindu yang teramat dariku untuk Allah .. Wassalamu’alaykum warohmatullah ..

Tertanda,

-Khalifatu fil ard-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

18 KAMMI -- Mencintai KAMMI dengan Sederhana.